Lynx, yang tidak dapat menahan rasa khawatirnya setelah melihat darah di tempat di mana ia dan Leena berciuman, segera berlari secepat kilat menuju rumah Leena.

"Siapa itu?" tanya salah satu penduduk kepada orang di sebelahnya, melihat sosok yang berlari dengan sangat cepat.

Setelah bayangan itu melewati mereka, Karim segera menyadari bahwa sosok yang berlari adalah Lynx. "Itu Lynx. Apakah ada masalah hingga dia berlari secepat itu?"

"Lynx memang luar biasa. Kekuatannya mengagumkan," kata penduduk yang lain.

"Kita harus mengejarnya. Sepertinya dia sedang dalam masalah," kata Karim sambil bergegas mengikuti arah Lynx berlari.

Sementara itu, Lynx yang sudah tiba di depan rumah Leena segera mengetuk pintu berkali-kali dengan panik sambil mondar-mandir di depan pintu.

Akhirnya, Leena keluar dan membukakan pintunya. "Ada apa, Lynx? Aku ingin beristirahat," kata Leena dengan pelan.

Lynx, melihat wajah Leena yang tampak pucat, menjadi semakin panik. "Apakah kamu terluka? Aku melihat darah di tempat kita tadi."

Ia dapat melihat ekspresi wajah Leena yang berubah, meskipun Leena segera berusaha menutupinya.

"A... aku baik-baik saja. Kembalilah! Aku mau beristirahat. Besok kita bertemu lagi," kata Leena sambil berusaha menutup pintu.

Namun, Lynx yang khawatir segera menghalangi dan menahan pintu agar tidak ditutup. "Leena, tolong! Kamu tidak bisa mengabaikan ini. Aku harus memastikan kamu aman!"

"Ada apa, Lynx? Leena?" tiba-tiba suara Karim terdengar di belakang Lynx.

Leena dan Lynx kaget dan menoleh. Mereka melihat Karim beserta dua penduduk Sinto lainnya memperhatikan mereka dengan penuh tanda tanya.

Sebelum Lynx sempat menjawab, Leena segera berkata, "Kami baik-baik saja. Lynx hanya ingin membawakanku makanan," kata Leena berbohong sambil menarik Lynx segera ke dalam rumah dan menutup pintu, meninggalkan Karim dan yang lainnya kebingungan.

Karim memandang yang lainnya dan mengangkat kedua tangannya memberi tanda tidak tahu. Lalu, dia mengajak mereka pergi menuju perbatasan kampung untuk menyapa penjaga dan memastikan keamanan.

Sementara itu, Lynx yang kebingungan karena mendadak ditarik oleh Leena, berdiri terdiam. Dia memperhatikan Leena yang terlihat lebih segar setelah mandi, terpana melihat kecantikannya. Rambutnya terlihat semakin panjang, terikat di belakang dengan menggunakan tali yang terbuat dari akar.

Tubuhnya yang terlihat bertambah atletis memperlihatkan keseksiannya dengan pakaian kulit hewan yang hanya menutupi dadanya dan menggunakan rok pendek sebatas paha. Bibirnya terlihat merah sensual, mengundang perhatian dengan kilauan lembut saat terkena cahaya. Kulitnya terlihat lebih kencang, halus kecoklatan, memancarkan aura kesehatan dan vitalitas yang membuatnya semakin menawan.

Mata Leena yang besar berkilau dalam nuansa cerah, seolah menyimpan rahasia dan keanggunan yang mendalam, dipadukan dengan lekuk tubuhnya yang sempurna, menciptakan pesona yang tak bisa diabaikan. Lynx merasa seolah terhipnotis, terjebak dalam pesona wanita cantik yang di depannya, menyadari bahwa kecantikan Leena lebih dari sekadar fisik, itu adalah kombinasi dari kekuatan, keanggunan, dan ketulusan yang memikat hati siapa saja yang melihatnya.

Wajah Leena memerah melihat tatapan Lynx yang terpana menatapnya. "Kenapa kamu melihatku seperti itu?"

"Anu, eh..." Lynx salah tingkah dengan pertanyaan Leena. "Leena, apakah kamu terluka?" Lynx segera bertanya setelah kesadarannya pulih. "Kamu bisa cerita padaku. Tolong, jangan rahasiakan apapun dariku. Aku sangat mengkhawatirkan dirimu."

"Lynx, aku beneran tidak kenapa-kenapa," kata Leena dengan wajah memerah, sikapnya semakin membuat Lynx bertambah kebingungan.

"Lalu, mengapa kamu tadi terlihat begitu pucat?" tanya Lynx, berusaha memahami situasi yang membingungkannya. "Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja. Jika ada yang mengganggumu, aku bisa membantumu."

"Lynx, aku ingin bertanya kepadamu. Sebenarnya, siapakah wanita yang paling berharga bagimu?" kata Leena sambil menatap mata Lynx dengan tajam, seolah ingin melihat kebenaran di balik jawabannya.

Lynx terdiam sejenak, terkejut oleh pertanyaan mendalam itu. "Aku...," ia mulai, berusaha merangkai kata-kata yang tepat. "Ada beberapa wanita yang berarti bagiku, tetapi... Di pulau ini, mungkin kamu tahu siapa yang paling berharga. Kenapa kamu menanyakan ini?"

"Aku hanya ingin mengetahuinya. Aku tidak ingin ada kesalahpahaman di antara kita," jawab Leena, suaranya tenang namun tegas.

Lynx mengangguk, merasakan betapa seriusnya pernyataan Leena. "Aku mengerti. Kita harus jujur satu sama lain. Kamu berarti banyak bagiku, Leena, lebih dari yang bisa aku ungkapkan. Tidak ada yang perlu disembunyikan di antara kita."

Ia menatap Leena dengan harapan bahwa pembicaraan ini akan menghapus semua keraguan yang ada di antara mereka.

Lynx mengangguk, merasakan betapa seriusnya pernyataan Leena. "Aku mengerti. Tapi bukankah tadi kita di dekat gua sudah saling menyatakan isi hati? Bukankah kamu sudah menunjukkannya kepadaku?"

Leena terdiam sejenak, merenungkan kata-kata Lynx. "Ya, kita memang sudah melakukannya," jawabnya pelan. "Tapi aku hanya ingin memastikan bahwa kita memiliki perasaan yang sama. Kadang-kadang, perasaan bisa membingungkan."

Lynx mengangguk, merasakan betapa seriusnya pernyataan Leena. "Aku mengerti. Tapi bukankah tadi kita di dekat gua sudah saling menyatakan isi hati? Bukankah kamu sudah menunjukkannya kepadaku?"

Leena terdiam sejenak, merenungkan kata-kata Lynx. "Ya, kita memang sudah melakukannya," jawabnya pelan. "Tapi aku hanya ingin memastikan bahwa kita memiliki perasaan yang sama. Kadang-kadang, perasaan bisa membingungkan."

Lynx terdiam dalam bingung, dia tidak tahu harus merespon bagaimana. "Bukankah tadi kita sudah saling menunjukkan perasaan? Apakah aku salah ya? Kenapa rasanya dia jadi aneh begini ya?" batin Lynx.

"Leena, sejujurnya aku bingung dengan sikapmu yang mendadak berubah dan menanyakan hal ini. Tapi agar kamu puas, aku sangat mencintaimu. Aku menyayangimu sejak kita pertama kenal. Aku sudah berjanji akan selalu melindungimu hingga kembali, bahkan aku berharap suatu saat nanti bisa menjadi suamimu setelah kita kembali," jawab Lynx dengan tegas.

Leena terlihat menangis, air mata mengalir setelah mendengar kata-kata Lynx. Dia berjalan perlahan dan kemudian memeluk Lynx dengan erat.

Lynx mengelus rambut Leena dengan perlahan dan penuh perasaan. "Ada apa, Leena? Apakah kata-kataku ada yang salah? Apakah aku sudah menyakitimu?"

Leena menggelengkan kepalanya sambil mempererat pelukannya. "Aku senang mendengar kata-katamu. Aku juga mencintaimu. Kuharap kamu tidak akan pernah meninggalkanku."

Lynx lalu memegang bahu Leena dan menatap mata Leena yang terlihat basah. "Leena, katakan dengan sejujurnya. Apa yang terjadi? Kenapa badanmu tadi terasa dingin seperti es? Kenapa ada darah? Darah apa itu? Dan kenapa wajahmu pucat seperti ketakutan?"

Leena menundukkan kepala. Lidahnya terasa kelu, dia merasa terlalu malu untuk mengatakannya, tapi dia merasa Lynx perlu tahu. "Lynx... tadi itu..."

Lynx yang mendengar suara Leena terbata-bata dan ragu membuatnya semakin penasaran. "Ada apa, Leena? Ada apa tadi?"

"Tadi aku merasa sangat takut dan kaget sehingga badanku menjadi seperti itu," kata Leena dengan wajah terlihat malu.

"Takut? Takut kenapa, Leena? Apa yang terjadi? Ceritakan sejujurnya! Aku akan melindungimu," kata Lynx dengan tegas dan khawatir.

"Lynx, bisakah kamu diam dulu? Biarkan aku menyusun kata-kataku dan menyelesaikan kalimatku," kata Leena dengan nada sedikit kesal.

"Maafkan aku," kata Lynx singkat sambil memandang Leena, menunggunya bercerita.

"Tadi itu saat kita berciuman dan bergulingan... saat kamu di atasku, anu... anu.. itu..." Leena berusaha melanjutkan kata-katanya. Lidahnya terasa kelu, apa yang ingin dikatakan terasa nyangkut di ujung lidahnya.

Sementara itu, Lynx berusaha sabar, diam tidak bertanya, menunggu Leena menyelesaikan kalimatnya. Dia tidak ingin Leena marah lagi padanya.

Leena meneguk ludahnya lalu menundukkan kepalanya sambil menguatkan diri berkata, "Tadi itu, bagian intimmu menusuk dan masuk ke punyaku hingga aku merasa kaget dan takut."

"Menusuk? Masuk? Punyaku? Punyamu?" Lynx kebingungan, mencoba mencerna kata-kata Leena.

"Dasar Lynx bodoh! Kamu mengambil keperawananku," kata Leena sambil memukul ringan dada Lynx dan berlari ke kamarnya dengan wajah memerah malu.

"Hah?" Lynx terdiam, rasa tidak percaya serasa mimpi bercampur kebingungan membuatnya tidak tahu harus bersikap apa.

Lynx menunduk dan memperhatikan model celananya yang terbuat dari kulit hewan, berbentuk seperti rok wanita. "Benarkah masuk? Aku tidak menyadarinya karena panik melihat ekspresinya dan tubuhnya yang mendadak dingin seperti es," batinnya.

Lynx segera menyusul Leena ke kamar dan melihat Leena yang telungkup menutup wajahnya. "Leena, maafkan aku. Aku tidak menyadarinya karena melihatmu seperti itu. Aku... aku..." Lynx tidak dapat meneruskan kata-katanya karena Leena mendadak membalikkan badan, menarik Lynx hingga terjatuh menindih tubuh Leena, lalu Leena memeluk dan menciumnya.

leena menghentikan sejenak ciumannya dan berkata "itu sudah terjadi, kamu tidak salah.tapi kamu harus bertanggungjawab menikahiku dan tidak boleh ada wanita lain."

lynx menganggukkan kepala "aku berjanji" lalu dia melanjutkan ciumannya di bibir leena dengan perasaan bahagia

Leena menghentikan sejenak ciumannya dan berkata, "Itu sudah terjadi, kamu tidak salah. Tapi kamu harus bertanggung jawab menikahiku dan tidak boleh ada wanita lain."

Lynx menganggukkan kepala, "Aku berjanji," lalu dia melanjutkan ciumannya di bibir Leena dengan perasaan bahagia.

Mereka lalu saling berciuman dan berpelukan, melepas rasa rindu dengan kebahagiaan menyelimuti hati mereka.

Lynx kemudian menghentikan ciumannya dan memandang Leena dengan sorot mata bertanya. Leena, yang paham, menganggukkan kepala dan melepaskan tali yang mengikat penutup bagian intimnya. Tali yang lepas sendiri tanpa disengaja saat mereka berciuman di dekat gua, sehingga terjadi hal yang tidak dia inginkan.

Malam itu, kamar tersebut menjadi saksi bisu dua jiwa yang saling mencintai, memadu kasih dengan penuh kehangatan dan kerinduan.

"Ah... ah... Lynx, aku tidak ingin hamil di tempat ini. Jangan di dalam ya," pinta Leena dengan nada cemas di sela pertarungan mereka. Lynx hanya mengangguk, memahami kekhawatiran Leena. Malam itu, mereka terlibat dalam pertarungan penuh gairah di atas tempat tidur dari jerami yang beralaskan kulit hewan. Suasana kamar dipenuhi dengan desahan-desahan lembut, menciptakan momen intim yang sarat emosi di antara mereka. Ketegangan dan hasrat saling berpadu, menjadikan malam itu tak terlupakan dalam perjalanan cinta mereka.

Di dalam hatinya, Lynx berjanji dan bertekad akan berjuang sekuat tenaga untuk mengalahkan suku Monrest. Dia ingin membawa Leena kembali ke dunia mereka dan menikahinya, memastikan bahwa cinta mereka akan bertahan meskipun ada banyak rintangan di depan.


